VIRALTANGERANG.ID – Di tengah berbagai program kesejahteraan yang kerap digaungkan pemerintah, masih banyak warga yang hidup dalam rumah tak layak huni dan bergantung pada uluran tangan sesama.
Di celah itulah Anwar Sanusi atau sapaan akrab Kang Uci, pemuda asal Sukamulya, Kabupaten Tangerang, mengambil peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.
Dengan anggaran kantong pribadi, tanpa program resmi, dan tanpa panggung seremonial, Kang Uci bergerak membantu warga melalui bedah rumah sederhana dan santunan sosial. Aksi tersebut ia lakukan bukan atas nama pencitraan, melainkan atas dasar kepedulian pribadi terhadap kondisi sosial di lingkungannya.
Sejumlah rumah warga yang luput dari pendataan bantuan pemerintah, berdinding rapuh dan nyaris roboh, akhirnya diperbaiki melalui gotong royong yang diprakarsai Kang Uci.
Ia juga kerap memberikan santunan kepada warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sesuatu yang ironisnya masih terjadi di tengah klaim keberhasilan pembangunan daerah.
Kiprah Kang Uci secara tidak langsung membuka pertanyaan publik: ke mana peran negara? Di saat pemerintah daerah rutin mengumumkan program penanggulangan kemiskinan dan perbaikan rumah tidak layak huni, kenyataannya masih ada warga yang hanya bisa berharap pada solidaritas sosial.
Kang Uci bukan pejabat, bukan pula penerima mandat anggaran. Namun langkah kecilnya justru menjadi tamparan keras bagi birokrasi yang sering kali terjebak pada laporan administratif, tetapi abai terhadap kondisi riil masyarakat di lapangan.
“Kalau menunggu bantuan, entah kapan datangnya. Warga butuh sekarang,” ujar Kang Uci singkat, menggambarkan kegelisahan yang dirasakan banyak masyarakat kecil.
Di tengah narasi besar pembangunan dan jargon kesejahteraan, pengabdian Kang Uci menjadi cermin ketimpangan antara retorika kebijakan dan realitas sosial. Bahwa masih ada warga yang harus diselamatkan oleh inisiatif pribadi, bukan oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka.
Kisah Kang Uci menegaskan satu hal: selama negara belum sepenuhnya hadir, kepedulian warga akan terus menutup kekosongan. Namun pertanyaannya, sampai kapan beban itu harus dipikul oleh orang-orang biasa?.
(Red).

