BONUS I demografi adalah momentum berharga ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar daripada yang tidak produktif. Kabupaten Tangerang, dengan populasi muda yang melimpah dan posisinya sebagai pusat industri, memiliki peluang besar memanfaatkannya. Namun, peluang ini bisa berubah menjadi ancaman bila tidak dikelola serius.
Persoalan utama yang muncul adalah ketidaksiapan SDM lokal. Banyak anak muda Kabupaten Tangerang masih terkendala keterampilan dan pendidikan, sementara dunia kerja semakin menuntut kualitas, kreativitas, dan penguasaan teknologi.
Jika pemerintah daerah hanya mengandalkan industri padat karya tanpa investasi serius pada manusia, maka ledakan usia produktif bisa berubah menjadi ledakan pengangguran.
Keseriusan pengelolaan bonus demografi harus tampak pada kebijakan nyata. Pendidikan vokasi perlu diperkuat, pelatihan kerja harus link and match dengan kebutuhan industri, dan akses kesempatan mesti merata hingga ke desa-desa.
Selain itu, pemerintah juga perlu membuka ruang bagi UMKM, ekonomi kreatif, dan pertanian modern agar generasi muda tidak hanya bergantung pada pabrik.
Bonus demografi tidak akan datang dua kali. Jika Kabupaten Tangerang ingin menjadikan generasi mudanya sebagai aset, bukan beban, maka investasi terbesar hari ini adalah pada manusia. Tanpa itu, bonus demografi akan tinggal sebagai jargon, bukan kenyataan.
*Penulis: Ari Sudrajat, Aktivis Muda pendiri Benteng Rakyat Tangerang (BENTANG)

